Protected by Copyscape Website Copyright Protection

Minggu, 10 Maret 2013

Persahabatan Hujan


Dia merapatkan jaket. Hujan masih betah menghantam tanah di sekelilingnya, sama sekali tidak terlihat lelah. Dia bisa mencium aroma hujan yang memualkan memenuhi indra penciuman. Matanya memicing, merutuk.  Angkot yang semenjak tadi ditunggunya tidak datang-datang. Dia benci saat-saat seperti ini. Terjebak hujan dan hanya bisa diam menunggu. Membiarkan ujung-ujung sepatunya basah terkena percikan air. Bahkan sinyal ponselnya pun tidak terlalu baik. Tidak bisa melakukan apa pun. Dia benci hujan.

“Baru pulang?”

Suara itu menyadarkannya dari lamunan. Entah sejak kapan gadis itu ada di sana. Dia tidak menyadari sekelilingnya sama sekali sejak tadi―dia hanya memikirkan hujan dan angkot yang tidak kunjung datang.

“Ya. Kau?”

Ini hanya pertanyaan basa-basi. Dia tidak tertarik untuk berbicara sebenarnya. Tidak tertarik juga untuk mendengar jawabannya. Toh, dia tidak mengenal gadis itu sama sekali. Tapi dia harus selalu bersikap baik pada orang yang baik padanya, ‘kan? Bahkan peraturan sosial ini mulai mengusiknya! Dia membenci hari ini.

“Hm.” Gadis itu mengangguk. “Aku terlalu sibuk menyusun artikel untuk majalah bulan depan.”

“Kau masuk klub jurnal?”

“Begitulah.” Gadis itu tersenyum lebar―terlihat bangga dengan pekerjaannya. “Kau ada di salah satu artikel majalah kami nanti,” dia memberi informasi.

“Ah, ya, aku tahu.” Dia masih ingat satu minggu yang lalu dua orang dari klub jurnal mewawancarainya atas kemenangannya dalam olimpiade catur baru-baru saja. “Apa kau mengajakku berbicara karena ingin mewawancaraiku juga?”

Gadis itu tertawa kecil. Dia menggeleng. Menyapukan tangannya di udara. “Kau narsis juga. Artikelmu sudah selesai ditulis. Tinggal terbit.” Dia mengedipkan sebelah mata. “Kecuali kalau kauingin menambahkan satu atau dua hal yang menarik lagi. Kehidupan asmara seorang pemain catur handal sepertinya cukup menarik.”

Dia menghela napas. “Tidak. Aku tidak tertarik untuk menambahkan lagi.”

“Padahal topik tentang pacaran itu lumayan banyak minatnya. Kau bisa membuat pacarmu bangga juga, tahu?”

“Tidak. Aku tidak punya pacar―tidak perlu menambahkan hal ini ke dalam artikelmu, oke?”

“Baiklah. Baiklah.” Gadis itu masih terkekeh. “Aku wartawan beretika kok.”

“Baguslah.”

Hujan masih menghentak-hentak bumi tanpa lelah. Langit masih begitu gelap. Sementara mereka mulai kembali terdiam. Sunyi yang sama menyebalkannya dengan hujan.

“Siapa namamu?”

“Heh?”

“Kau tahu namaku, ‘kan? Kelvin. Jadi, siapa namamu?”

Gadis itu tersenyum. Menjulurkan tangannya. “Aku Alya. Salam kenal.”

“Salam kenal.” Kelvin menyambut uluran tangan itu sekilas. Lalu kembali menatap hujan.

“Kau baik juga.”

“Apa?” Dia menatap gadis itu―bingung.

Alya membenarkan letak tas selempangannya, memegang talinya. “Banyak yang bilang kau sombong.”

Benarkah? Dia tidak menyadarinya. “Sepertinya sikap pendiamku disalahartikan?”

“Mungkin.” Alya mengangkat bahu. Dia menatap hujan yang tidak juga lelah. “Aku suka hujan,” gumamnya, tersenyum.

Kelvin menaikkan alis. “Kenapa?”

Gadis itu menutup matanya, menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan semua aroma hujan ke dalam paru-parunya. “Kau tahu? Tanpa hujan, air di bumi akan habis. Kalau tidak ada air, tidak akan ada makhluk yang bisa hidup. Lihat saja, di daerah lain, gurun misalnya, hujan begitu ditunggu. Setiap makhluk di sana akan bergembira saat hujan turun. Dan saat hujan tidak turun-turun, beberapa daerah kadang mengadakan doa bersama, meminta hujan.” Gadis itu tersenyum. “Kita harus bersyukur karena bisa melihat hujan lumayan sering.”

Kelvin memutar bola mata. Dia tahu gadis itu benar. Tapi tetap saja. “Aku tidak suka hujan.”

“Aku bisa melihatnya dari caramu memandang hujan dari tadi.” Gadis itu mengedipkan mata. “Kau payah.”

Gadis itu … apa sih yang dia pikirkan?

“Aku suka menebak bahasa tubuh orang-orang. Aku tahu kau tidak suka hujan, dan kurasa bukan hanya karena kita terpaksa terjebak di sini. Ada hal lain, ‘kan?”

Apa dia bisa membaca pikiran orang?

“Tidak. Tidak. Aku tidak bisa membaca pikiran―jika itu yang kaupikirkan. Aku hanya membaca gerakanmu. Mata tidak pernah bohong. Dan lagi, aku tahu kok kita tidak begitu saling mengenal. Jadi tidak perlu menceritakan hal pribadi.” Gadis itu tersenyum ramah. “Aku tidak akan memaksamu menceritakan masalahmu.”

Kelvin menatap hujan di depannya. Jalanan masih saja sepi―tidak ada tanda-tanda kendaraan umum yang semenjak tadi ditunggunya akan datang. Dia menatap gadis di sebelahnya sekilas, yang juga tengah menatap hujan. Entah bagaimana Alya membuatnya merasa nyaman.

“Aku suka catur karena ibu.” Kelvin bisa merasakan tatapan Alya padanya. Tapi gadis itu sama sekali tidak menyela. Jadi dia melanjutkan, “Dulu, ibu sangat suka catur dan … hujan.”

“Dia menyukai hujan karena ayahmu, ya?”

Kelvin menatap gadis itu. Merasa terkejut karena gadis itu bisa menebak ceritanya, padahal dia belum mengatakannya. Tapi Alya hanya tersenyum lebar.

“Ya. Dan ayah meninggalkannya. Meninggalkan kami.” Kelvin menarik napas dalam-dalam. “Dia membiarkan ibu yang lemah berjuang sendiri. Mengurusiku yang masih begitu kecil untuk mengerti. Rasanya menyakitkan melihat ibu menangis sambil menatap hujan―menanti kedatangan ayah yang tidak akan mungkin terjadi.”

Detik selanjutnya berjalan begitu lambat. Kelvin menghela napas. Dia tidak tahu apa yang dia harapkan dari Alya saat dia menceritakan hal ini. Mereka baru saling mengenal, rasanya memang tidak pantas untuk membicarakan hal sepribadi ini.

“Kurasa ibumu tidak lemah.” Alya tersenyum lebar. “Dan hujan tidak benar-benar salah. Dia hanya menggantikan air mata kalian―mungkin juga menyampaikan pesan yang tidak pernah dipahami oleh ayahmu. Kita tidak pernah tahu. Tapi yang pasti, menyalahkan bukanlah solusi.”

“Aku tahu.”

“Kurasa kata sabar juga terdengar klise, ‘kan? Kau, aku dan semua orang juga tahu soal ‘sabar’. Jadi satu-satunya hal yang bisa kukatakan adalah teruslah hidup dan tunjukkan pada ayahmu itu kalau kalian bisa kuat tanpa dia .... dan kurasa kau tidak berhak menyalahkan hujan.”

“Yeah. Kau benar.”

Alya meringis. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kurasa aku tidak pandai merangkai kata-kata.”

Kelvin tersenyum―senyum tulus pertamanya hari ini. “Padahal seorang jurnalis harusnya pintar merangkai kalimat. Bukankah itu pekerjaan mereka?”

Gadis itu terkekeh. Dia mengayunkan telapak tangannya di udara. Lalu menatap langit yang masih saja tertutup awan hitam. “Hidup ini aneh. Banyak hal di dunia ini yang tidak kumengerti. Tapi semakin banyak sisi yang kulihat, kurasa hidup ini hanya berasaskan satu hal. Keadilan. Semuanya adil, asal kita bisa melihat dari semua sisi yang ada. Tidak terpaku pada kenegatifan yang cenderung menutup jalan pikiran.”

“Jadi selain menjadi jurnalis, kau juga berbakat menjadi filsuf, ya?”

“Apaan sih?”

Alya tertawa. Memukul pundak Kelvin pelan. Sementara pemuda itu pura-pura meringis sambil menahan tawa.

Padahal mereka baru bertemu. Tapi semuanya terasa benar. Padahal gadis itu hampir tidak melakukan apa pun. Dia hanya…

“Hey, Kelvin?”

“Hm?”

“Apakah setelah hujan ini berhenti, kita masih akan terus berteman?”

“Ya. Hingga hujan-hujan selanjutnya. Aku berharap kita bisa tetap terus berteman.”

“Kuanggap itu perjanjian persahabatan.”

… membuat Kelvin mendadak menyukai hujan.

“Jangan masukkan hal ini ke artikel majalahmu, oke?”

Dan Kelvin menyukai cara gadis itu tertawa.
.
END
.
A/N: Entah ini apaan. Cuma tulisan iseng untuk ngebuang penat. Emang gaje―persis penulisnya #sigh

Minggu, 09 Desember 2012

Just Rumbling Gaje


Berlari tanpa henti. Meninggalkan setiap deru napas dan detak tak berbentuk.

Kaki ini, kaki kecil yang rapuh. Terus berusaha menjauh dan berharap bisa membawa tubuh kecil tak berguna ini menghilang.

Semua terlalu sulit dimengerti oleh otak kecilku. Aku hanya tahu satu, semua orang membenciku.

Tanpa teman, tanpa siapa-siapa, tanpa kasih sayang dan tanpa cinta. Entah sejak kapan satu per satu orang yang mengenalku menjauhiku.

Apa salahku? Hanya itu yang terus aku pikir. Tapi nihil, kosong, hampa. Aku tidak menemukan apa pun. Aku tidak pernah mendapatkan jawaban apa pun.

Aku tidak mengerti apa itu cinta. Aku juga tidak mengerti bagaimana mendapatkannya. Aku hanya tahu bahwa cinta bisa mengobati lukaku. Sebuah luka yang cukup besar dan perih di dadaku.

Aku telah mencoba meraihnya. Aku telah berusaha mendapatkannya. Tapi semua sama saja. Mereka meninggalkanku. Mereka menjauhiku.

Aku kecewa, aku benci semua ini, karena itu aku melawan. Aku berharap semua berakhir jika aku memberontak. Tapi ternyata lubang di dadaku semakin lebar. Dendamku semakin menumpuk dan lebih tak dipedulikan.

Aku menemukan jawaban dari kelemahanku saat aku melihatmu.

Waktu itu musim semi. Bunga Sakura yang cantik mewarnai setiap sudut jalan. Dan kau di sana. Di bawah salah satu pohon Sakura, meringkuk sendirian.

Aku tahu apa yang kaurasakan saat itu. Aku tahu bagaimana rasanya. Perih dan sangat sakit, bukan?

Saat itu aku sadar, aku tidak sendiri. Kau memiliki lubang yang sama denganku. Kau juga meminta sesuatu yang disebut cinta itu. Kau membutuhkannya untuk menyembuhkan lukamu, persis seperti aku.

Aku berjalan mendekatimu. Hanya untuk memastikan apa yang ada dipikiranku. Tapi kau menatapku ketakutan. Aku sudah biasa. Setiap orang selalu begitu padaku. Aku terus melangkah perlahan berusaha meyakinkan dirimu bahwa aku tidak akan melukaimu. Meyakinkanmu agar mau membagi luka itu bersamaku.

Aku tidak tahu mengapa. Aku hanya mengikuti naluriku. Aku hanya melakukan yang tubuhku inginkan. Saat itu aku memang gila. Tapi aku beruntung karena telah mencoba. Jika tidak, kita tidak mungkin bersama seperti ini.

Dulu, aku selalu berpikir kalau aku adalah pria paling sial di dunia ini. Manusia yang paling tidak diinginkan. Tapi kau mengubahnya. Kini, aku adalah pria paling beruntung yang pernah ada. Manusia yang sangat kau inginkan.

Setidaknya, aku bahagia setiap kau menyapaku dan tersenyum. Aku sangat bahagia saat pipimu bersemu merah setiap aku memujimu. Kau sungguh malaikat terbaik yang Tuhan kirimkan.

“Aku mencintaimu.”

Aku sangat suka saat kau mengatakan itu padaku.

Aku mencintaimu.

Cinta.

Itulah obat yang menyembuhkanku. Itu juga obat yang menyembuhkanmu.

Aku mencintaimu.

Ya, aku mencintaimu.

Terima kasih untuk obat yang telah kau berikan….


Rabu, 12 September 2012

Aku Di Sini


Aku di sini, dalam gelap yang sepi
Mencoba mencari tangga yang dapat kunaiki
Berteman angin yang bergulir sendiri
Mendesahkan semua mimpi
Berharap mentari menghampiri

Aku di sini, menangis dalam sunyi
Menyenandungkan kesenduan melodi
Menatap miris guliran waktu yang tak mau berhenti
Membiarkan semua orang melalui
Tersenyum dalam pahitnya diri

Aku di sini, terdiam sendiri, terbelenggu rantai ini
Sementara mereka berlari, tertawa serta bernyanyi
Aku di sini, bermimpi, bermimpi dan hanya bisa bermimpi
Hingga realita terenggut habis oleh mati...

Protected by Copyscape Plagiarism Checker