Protected by Copyscape Website Copyright Protection

Jumat, 08 Juni 2012

Because He is Itachi (Fanfiction)


.
.
Disclaimer:
Naruto miliknya Masashi Kishimoto. Saya tidak meraih keuntungan material apa pun dalam membuat fanfiksi ini selain hanya untuk kesenangan semata.

Warning: Canon, Typo(s), loncat-loncat, mungkin sangat abal dan gaje karena sejujurnya saya tidak pernah membuat fic canon sebelumnya dan kurang tahu tentang seluk beluknya, yang pasti fic ini penuh dengan kekurangan. m(_ _)m
.
Sebuah hadiah kecil untuk Itachi Uchiha.

Meski karir(?)mu di manga Naruto akan berakhir, kau tetaplah bagian terpenting yang tidak akan pernah terlupakan….
.
Enjoy!
.
.

“Bagaimana jika kau bukanlah seorang Uchiha yang berbakat?”
“Mungkin hidup tidak akan sesulit ini.”

.
.
Cahaya lilin yang berpendar menerangi wajah Fugaku yang duduk di tempatnya dalam diam. Tidak ada satu pun senyum yang terhampar di bibirnya, membuat kerutan-kerutan yang menghiasi wajahnya semakin tergambar jelas. Matanya yang gelap terlihat mencoba mendominasi mata lawan bicaranya yang tidak kalah gelap. Aura ketegasan dan kepemimpinan terhampar jelas di sekelilingnya. Di hadapannya, dihalangi oleh sebuah meja kecil, anak sulungnya duduk dalam diam. Entah apa yang tengah dipikirkannya, Fugaku tidak terlalu peduli.

“Kau tahu, kan, apa yang harus kaulakukan, Itachi?” Suara penuh wibawa yang dimiliki Fugaku mengudara setelah sekian lama ia terdiam.

Itachi yang sedari tadi turut diam itu meraih gelas teh yang sudah mendingin sejak tadi. Ia menyecapnya sejenak sebelum memandang ayahnya dengan sungguh-sungguh. “Aku tahu, Tou-san.”

Nada suara Itachi yang penuh dengan keyakinan itu membuat Fugaku menarik napas lega sekilas. Tetapi, jika ia melihat ekspresi wajah anaknya itu dengan lebih saksama, mungkin ia akan menemukan ekspresi lain yang sayangnya tidak pernah disadarinya.

“Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku. Bagaimanapun kau adalah anakku.”

“Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan.”
.
.
.
.
.
Hari itu, seperti kebanyakan hari lainnya, Itachi tengah bersiap untuk pergi melaksanakan tugasnya sebagai kapten ANBU. Saat itu adik laki-lakinya mendatanginya. Wajah polos dan menggemaskan yang dimilikinya membuat Itachi mengukir sebuah senyum tipis di bibirnya.

Nii-san! Temani aku latihan ya hari ini?” pinta adiknya itu.

“Maaf Sasuke, hari ini Nii-san tidak bisa.” Itachi memandang wajah memohon adiknya. “Kau latihan sendiri saja, ya?”

Sasuke, nama adiknya itu, menekuk wajahnya. Terlihat sangat tidak puas dengan jawaban kakaknya itu. “Tapi, Nii-san kan sudah janji padaku,” tuntutnya.

Itachi yang melihat reaksi adiknya itu melebarkan senyumannya. Dia menggerakkan tangannya—memberi tanda pada Sasuke agar mendekat. Sasuke yang mengerti dengan maksud kakaknya itu tanpa keraguan setengah berlari mendekatinya. Tetapi belum sempat Sasuke benar-benar dekat dengan Itachi, kakaknya itu malah menyentil keningnya. “Lain kali saja, ya, Sasuke?” bujuknya.

Adik kecilnya itu semakin menekuk wajahnya. Tetapi Itachi tetap mempertahankan senyum tipisnya hingga pergi menghilang di balik pintu—mengabaikan ekspresi kecewa dari Sasuke. Andai Sasuke saat itu tahu, Itachi tidak pernah ingin mengingkari janjinya atau membuatnya kecewa. Ia hanya tidak memiliki pilihan yang jauh lebih baik daripada jalan yang diambilnya kini.
.
.

“Bagaimana jika kau bukanlah bagian dari Konoha?”
“Mungkin aku tidak akan kehilangan semuanya.”

.
.
Di ruangan yang terlihat remang karena satu-satunya pencahayaan hanya berasal dari sebuah jendela kecil di pojok ruangan, Itachi berdiri dalam diam. Tidak jauh dari tempatnya berada, sosok lain menatapnya dengan saksama. Tubuhnya yang dibalut perban membuatnya tampat menakutkan. “Apa kau akan menyuruh pasukan ANBU untuk menolongmu?” tanyanya pada Itachi. Nada suaranya yang begitu dingin sebenarnya tidak begitu disukai oleh pemuda itu.

Itachi memejamkan matanya sekilas, mencoba menghapus rasa lelah yang dideritanya. “Tidak. Saya akan melaksanakannya sendiri.”

Sosok itu terlihat mengamati Itachi sekilas. Ia tahu, Itachi sangat hebat, dan misi ini tidak mungkin gagal ia lakukan. “Jadi … kapan kau akan melakukannya?”

“Malam ini,” sahutnya.

Sosok itu berjalan keluar, terlihat cukup puas dengan jawaban Itachi dan sebelum ia benar-benar keluar dari pintu, ia berkata, “Aku harap kau melakukan misi ini dengan sempurna.”

Itachi tidak berkata apa pun saat melihat sosok itu pergi meninggalkannya sendirian. Sejenak ia menghela napas. Diliriknya langit yang terlihat dari balik jendela kecil di ruangan itu. Semuanya akan berakhir malam ini. Inilah takdir yang sudah dipilihnya. Demi kebaikan semua orang—demi kebaikan Konoha.
.
.
.
.
.
Sasuke tahu ia terlambat pulang karena terlalu asik berlatih. Bulan telah menunjukkan sosoknya dari tadi. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ke pemukiman Uchiha, berharap ia tidak membuat ibunya terlalu khawatir karena terlambat. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia sudah sedikit lebih lihai menggunakan shuriken dan Sasuke tidak sabar untuk memamerkannya pada Itachi.

Senyum itu masih terukir di wajahnya hingga ia menyadari ada sesuatu yang aneh terjadi ketika ia baru saja memasuki gerbang tempat kediaman Uchiha berada. Tidak ada satu pun lampu yang menyala, padahal ini belum terlalu larut. Kekagetannya semakin menjadi saat ia melihat sosok-sosok dari keluarga Uchiha yang begitu dikenalnya tidak lagi bernyawa, tubuh mereka bergelimpangan di sepanjang jalan.

Sasuke semakin mempercepat langkahnya menuju rumah. Wajahnya memucat, yang ada di pikirannya hanyalah keselamatan kedua orang tuanya. Tetapi harapannya musnah, dia menemukan kedua orang tuanya tidak lagi bernyawa. Dan di sisi mayat keduanya, Itachi berdiri. Memamerkan ekspresi yang tidak pernah dikenal oleh Sasuke. Saat itu ia tahu, Itachi-lah yang membunuh semuanya.

Sejak saat itu semuanya berubah bagi Sasuke. Tidak ada lagi impian-impian kecil yang selama ini menghiasi hidupnya. Tujuan hidupnya hanya satu, membunuh Itachi. Persis seperti yang Itachi inginkan. Menciptakan Sasuke untuk menjadi sosok yang akan mengadilinya atas keputusannya ini.

Tanpa pernah Sasuke sadari, hari itu, Itachi pergi meninggalkan dendam untuknya dengan berbalut air mata. Dia telah menciptakan skenario terbaik untuk membuat adiknya itu menjadi seorang pahlawan. Ya, Itachi mencintai desanya, tetapi ia jauh lebih mencintai adiknya. Dan dalam hati ia berharap, apa yang ia lakukan ini tidak sia-sia.
.
.

“Bagaimana jika kau bukanlah seorang kakak?”
“Mungkin aku tidak akan menjadi seorang pembohong besar.”

.
.
“AKU AKAN MEMBUNUHMU, ITACHI UCHIHA!”

Itachi menatap adiknya dengan tenang saat Sasuke menyerangnya dengan menggunakan chidori. Awalnya, ia memang sedikit terkejut dengan kehadiran adiknya itu, dan ekspresinya sedikit berubah saat menyadari Sasuke bisa menggunakan chidori yang setahunya hanya dimiliki oleh Kakashi. Tetapi, dengan begitu mudah Itachi kembali membuat ekspresi wajahnya sedatar semula, ia tidak melakukan banyak gerakan saat menangkap pergelangan tangan Sasuke saat ia menyerangnya.

Sebenarnya, Itachi tidak ingin melukai Sasuke. Jauh di dasar hatinya, ia ingin sekali mengucapkan rasa rindu dan sayangnya pada adiknya yang mulai tumbuh besar itu. Ia ingin kembali ke masa-masa di mana semuanya terasa baik-baik saja. Tetapi ia tahu, ia tidak bisa.

Saat Jiraiya berhasil datang untuk melindungi Naruto dari penyerangannya bersama Kisame, Itachi tahu kalau ia harus membuat sandiwara yang dibuatnya ini terlihat meyakinkan. Ia mematahkan lengan Sasuke dan memengaruhi Sasuke dengan genjutsu-nya. Semuanya ia lakukan dengan sangat baik dan meyakinkan.

Itachi tahu, setelah ini, Sasuke akan jauh lebih membencinya. Bahkan temannya yang jinchuriki itu sepertinya cukup percaya dengan semua kejahatan yang ia lakukan. Ia tahu, ia akan tersudut. Ia akan semakin dikenal sebagai penjahat. Tetapi justru itulah yang ia inginkan. Ia hanya tinggal menunggu Sasuke jauh lebih siap untuk menghukumnya.
.
.
.
.
.
Itachi tahu, ini adalah hari terakhir baginya melihat dunia. Ia sudah merencanakan semuanya sejak bertahun-tahun yang lalu dan menunggu hari ini. Ia akan menyerahkan nyawanya untuk Sasuke. Tetapi sebelumnya, ia akan berusaha untuk membersihkan tubuh Sasuke dari Orochimaru yang berusaha mencari kesempatan mengambil alih dirinya.

Dengan segala kebohongan yang ia ciptakan, Itachi terus bersandiwara. Menarik Sasuke agar semakin semangat membunuhnya. Membiarkan adiknya itu mengerahkan seluruh kemampuannya dan berharap chakra adiknya itu segera habis agar ia bisa memaksa Orochimaru keluar dari tubuhnya sebelum chakra milik Itachi sendiri habis.

Ia mengeluarkan berbagai teknik mata yang bisa dilakukan oleh mangekyo sharingan-nya. Ia tahu, Sasuke tidak kalah cerdas darinya. Pemuda itu pasti bisa mempelajari semuanya hanya dengan melihat dan melawan langsung Itachi. Ia mengajari Sasuke tanpa adiknya itu sadari.

Bahkan di saat mendekati embusan napasnya yang terakhir, Itachi masih menunjukkan kebohongannya. Ia ingin segalanya terlihat meyakinkan di mata Sasuke. Ia ingin sandiwaranya berakhir dengan sukses tanpa sedikit pun cela.

Tetapi, semua kebohongan itu luntur sendirinya tepat di saat terakhirnya. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun lewat, ia tersenyum. Sebuah senyum tertulus yang pernah ia sunggingkan. Senyum terakhir yang menghancurkan seluruh sandiwara yang selama ini dibuatnya. Kebohongan besar yang dibuatnya, hari itu resmi berakhir dan dia puas dengan seluruh kerja kerasnya.
.
.

“Bagaimana jika kau bisa memilih untuk menjadi dirimu yang sekarang atau orang lain? Kau akan memilih untuk menjadi siapa?”
“Aku akan tetap memilih untuk menjadi diriku yang sekarang. Seorang Itachi Uchiha, shinobi dari Konoha dan kakak dari Sasuke.”

.
.
“Kau harusnya mengerti apa yang aku ingin kaulakukan. Kau adalah kakakku, jadi kau mungkin akan menolaknya. Tetapi, aku juga adalah adikmu, jadi tak peduli apa pun yang kaukatakan aku tidak akan berhenti. Bahkan di saat kau mencoba melindungi desa ini … aku akan tetap mencoba menghancurkannya.”

Itachi tahu, semua kebohongannya telah terbongkar. Ia tidak pernah tahu semua sandiwaranya diketahui oleh seseorang yang tidak pernah ingin ia pikirkan akan mengetahuinya. Pria bertopeng itu berhasil membentuk Sasuke menjadi sosok yang kini berdiri di sampingnya. Sosok yang mencintai Itachi tetapi membenci hal yang paling Itachi cintai; desa Konoha.

Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah keputusan adiknya itu. Bahkan setelah usaha kerasnya untuk menyelamatkan desa, Sasuke tetap pada pendiriannya. Ya, dari awal dia tahu, dia bukanlah kakak yang baik. Ia sama sekali tidak pernah bisa memahami keinginan adiknya itu. Ia tidak pernah memercayai kekuatan Sasuke dan justru membuat adiknya itu terjatuh semakin jauh ke kegelapan.

Tetapi seperti Itachi yang biasanya, ia sudah memikirkan segalanya. Kali ini, sebelum ia kembali menutup mata untuk ke dua kalinya, ia sudah memutuskan untuk memberikan semua tanggung jawab ini pada Naruto. Ia yakin, pemuda itu bisa mengubah adiknya. Ia juga yakin, pemuda itu bisa membawa Konoha menjadi desa yang jauh lebih baik.

Bahkan di saat terakhirnya, Itachi masih menggantungkan harapannya untuk desa dan juga untuk Sasuke.
.
.

—Karena sejak awal akulah yang memilih untuk menjadi diriku yang sekarang.
Dan tanpa semua penderitaan itu, aku tidak akan bisa berbuat yang jauh lebih baik dari ini.
Bahkan hingga waktu berlalu aku masih mencintai adikku, Konoha dan takdirku—

.
.
FIN
.
.
A/N: Oke, aku tahu ini gaje banget… Karena gaje itulah aku tidak jadi mempublishnya di FFN... Biarlah di blog ini saja.. ;;A;;

Happy b’day Itachi-kun… Apa pun yang terjadi, kau adalah pahlawan yang sesungguhnya… X)

1 komentar:

Fiyah mengatakan...

Sukaaaa... penggambaran yang kalimat2 dicetak miring itu loh~ buat makin nyesek T_T

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda

Protected by Copyscape Plagiarism Checker