.
.
Disclaimer:
Naruto miliknya Masashi Kishimoto. Saya tidak meraih keuntungan
material apa pun dalam membuat fanfiksi ini selain hanya untuk kesenangan
semata.
Warning: Canon, Typo(s), loncat-loncat, mungkin sangat abal dan gaje
karena sejujurnya saya tidak pernah membuat fic canon sebelumnya dan kurang
tahu tentang seluk beluknya, yang pasti fic ini penuh dengan kekurangan. m(_
_)m
.
Sebuah hadiah kecil untuk Itachi Uchiha.
Meski karir(?)mu di manga Naruto akan berakhir, kau tetaplah bagian
terpenting yang tidak akan pernah terlupakan….
.
Enjoy!
.
.
“Bagaimana jika kau bukanlah seorang Uchiha yang berbakat?”
“Mungkin hidup tidak akan sesulit ini.”
.
.
Cahaya lilin yang berpendar menerangi
wajah Fugaku yang duduk di tempatnya dalam diam. Tidak ada satu pun senyum yang
terhampar di bibirnya, membuat kerutan-kerutan yang menghiasi wajahnya semakin
tergambar jelas. Matanya yang gelap terlihat mencoba mendominasi mata lawan
bicaranya yang tidak kalah gelap. Aura ketegasan dan kepemimpinan terhampar
jelas di sekelilingnya. Di hadapannya, dihalangi oleh sebuah meja kecil, anak
sulungnya duduk dalam diam. Entah apa yang tengah dipikirkannya, Fugaku tidak
terlalu peduli.
“Kau tahu, kan, apa yang harus
kaulakukan, Itachi?” Suara penuh wibawa yang dimiliki Fugaku mengudara setelah
sekian lama ia terdiam.
Itachi yang sedari tadi turut
diam itu meraih gelas teh yang sudah mendingin sejak tadi. Ia menyecapnya
sejenak sebelum memandang ayahnya dengan sungguh-sungguh. “Aku tahu, Tou-san.”
Nada suara Itachi yang penuh
dengan keyakinan itu membuat Fugaku menarik napas lega sekilas. Tetapi, jika ia
melihat ekspresi wajah anaknya itu dengan lebih saksama, mungkin ia akan
menemukan ekspresi lain yang sayangnya tidak pernah disadarinya.
“Aku tahu kau tidak akan
mengecewakanku. Bagaimanapun kau adalah anakku.”
“Aku akan melakukan apa yang bisa
kulakukan.”
.
.
.
.
.
Hari itu, seperti kebanyakan hari
lainnya, Itachi tengah bersiap untuk pergi melaksanakan tugasnya sebagai kapten
ANBU. Saat itu adik laki-lakinya mendatanginya. Wajah polos dan menggemaskan yang
dimilikinya membuat Itachi mengukir sebuah senyum tipis di bibirnya.
“Nii-san! Temani aku latihan ya hari ini?” pinta adiknya itu.
“Maaf Sasuke, hari ini Nii-san tidak bisa.” Itachi memandang
wajah memohon adiknya. “Kau latihan sendiri saja, ya?”
Sasuke, nama adiknya itu, menekuk
wajahnya. Terlihat sangat tidak puas dengan jawaban kakaknya itu. “Tapi, Nii-san kan sudah janji padaku,” tuntutnya.
Itachi yang melihat reaksi
adiknya itu melebarkan senyumannya. Dia menggerakkan tangannya—memberi tanda
pada Sasuke agar mendekat. Sasuke yang mengerti dengan maksud kakaknya itu
tanpa keraguan setengah berlari mendekatinya. Tetapi belum sempat Sasuke
benar-benar dekat dengan Itachi, kakaknya itu malah menyentil keningnya. “Lain
kali saja, ya, Sasuke?” bujuknya.
Adik kecilnya itu semakin menekuk
wajahnya. Tetapi Itachi tetap mempertahankan senyum tipisnya hingga pergi menghilang
di balik pintu—mengabaikan ekspresi kecewa dari Sasuke. Andai Sasuke saat itu
tahu, Itachi tidak pernah ingin mengingkari janjinya atau membuatnya kecewa. Ia
hanya tidak memiliki pilihan yang jauh lebih baik daripada jalan yang
diambilnya kini.
.
.
“Bagaimana jika kau bukanlah bagian dari Konoha?”
“Mungkin aku tidak akan kehilangan semuanya.”
.
.
Di ruangan yang terlihat remang
karena satu-satunya pencahayaan hanya berasal dari sebuah jendela kecil di
pojok ruangan, Itachi berdiri dalam diam. Tidak jauh dari tempatnya berada,
sosok lain menatapnya dengan saksama. Tubuhnya yang dibalut perban membuatnya
tampat menakutkan. “Apa kau akan menyuruh pasukan ANBU untuk menolongmu?”
tanyanya pada Itachi. Nada suaranya yang begitu dingin sebenarnya tidak begitu
disukai oleh pemuda itu.
Itachi memejamkan matanya
sekilas, mencoba menghapus rasa lelah yang dideritanya. “Tidak. Saya akan
melaksanakannya sendiri.”
Sosok itu terlihat mengamati
Itachi sekilas. Ia tahu, Itachi sangat hebat, dan misi ini tidak mungkin gagal
ia lakukan. “Jadi … kapan kau akan melakukannya?”
“Malam ini,” sahutnya.
Sosok itu berjalan keluar,
terlihat cukup puas dengan jawaban Itachi dan sebelum ia benar-benar keluar
dari pintu, ia berkata, “Aku harap kau melakukan misi ini dengan sempurna.”
Itachi tidak berkata apa pun saat
melihat sosok itu pergi meninggalkannya sendirian. Sejenak ia menghela napas.
Diliriknya langit yang terlihat dari balik jendela kecil di ruangan itu. Semuanya
akan berakhir malam ini. Inilah takdir yang sudah dipilihnya. Demi kebaikan
semua orang—demi kebaikan Konoha.
.
.
.
.
.
Sasuke tahu ia terlambat pulang
karena terlalu asik berlatih. Bulan telah menunjukkan sosoknya dari tadi. Dengan
cepat ia melangkahkan kakinya menuju ke pemukiman Uchiha, berharap ia tidak
membuat ibunya terlalu khawatir karena terlambat. Sebuah senyum tipis terukir
di wajahnya. Ia sudah sedikit lebih lihai menggunakan shuriken dan Sasuke tidak
sabar untuk memamerkannya pada Itachi.
Senyum itu masih terukir di
wajahnya hingga ia menyadari ada sesuatu yang aneh terjadi ketika ia baru saja
memasuki gerbang tempat kediaman Uchiha berada. Tidak ada satu pun lampu yang
menyala, padahal ini belum terlalu larut. Kekagetannya semakin menjadi saat ia
melihat sosok-sosok dari keluarga Uchiha yang begitu dikenalnya tidak lagi
bernyawa, tubuh mereka bergelimpangan di sepanjang jalan.
Sasuke semakin mempercepat
langkahnya menuju rumah. Wajahnya memucat, yang ada di pikirannya hanyalah
keselamatan kedua orang tuanya. Tetapi harapannya musnah, dia menemukan kedua
orang tuanya tidak lagi bernyawa. Dan di sisi mayat keduanya, Itachi berdiri. Memamerkan
ekspresi yang tidak pernah dikenal oleh Sasuke. Saat itu ia tahu, Itachi-lah
yang membunuh semuanya.
Sejak saat itu semuanya berubah
bagi Sasuke. Tidak ada lagi impian-impian kecil yang selama ini menghiasi
hidupnya. Tujuan hidupnya hanya satu, membunuh Itachi. Persis seperti yang
Itachi inginkan. Menciptakan Sasuke untuk menjadi sosok yang akan mengadilinya
atas keputusannya ini.
Tanpa pernah Sasuke sadari, hari
itu, Itachi pergi meninggalkan dendam untuknya dengan berbalut air mata. Dia
telah menciptakan skenario terbaik untuk membuat adiknya itu menjadi seorang
pahlawan. Ya, Itachi mencintai desanya, tetapi ia jauh lebih mencintai adiknya.
Dan dalam hati ia berharap, apa yang ia lakukan ini tidak sia-sia.
.
.
“Bagaimana jika kau bukanlah seorang kakak?”
“Mungkin aku tidak akan menjadi seorang pembohong besar.”
.
.
“AKU AKAN MEMBUNUHMU, ITACHI
UCHIHA!”
Itachi menatap adiknya dengan
tenang saat Sasuke menyerangnya dengan menggunakan chidori. Awalnya, ia memang
sedikit terkejut dengan kehadiran adiknya itu, dan ekspresinya sedikit berubah
saat menyadari Sasuke bisa menggunakan chidori yang setahunya hanya dimiliki
oleh Kakashi. Tetapi, dengan begitu mudah Itachi kembali membuat ekspresi
wajahnya sedatar semula, ia tidak melakukan banyak gerakan saat menangkap
pergelangan tangan Sasuke saat ia menyerangnya.
Sebenarnya, Itachi tidak ingin
melukai Sasuke. Jauh di dasar hatinya, ia ingin sekali mengucapkan rasa rindu
dan sayangnya pada adiknya yang mulai tumbuh besar itu. Ia ingin kembali ke
masa-masa di mana semuanya terasa baik-baik saja. Tetapi ia tahu, ia tidak
bisa.
Saat Jiraiya berhasil datang
untuk melindungi Naruto dari penyerangannya bersama Kisame, Itachi tahu kalau
ia harus membuat sandiwara yang dibuatnya ini terlihat meyakinkan. Ia
mematahkan lengan Sasuke dan memengaruhi Sasuke dengan genjutsu-nya. Semuanya
ia lakukan dengan sangat baik dan meyakinkan.
Itachi tahu, setelah ini, Sasuke
akan jauh lebih membencinya. Bahkan temannya yang jinchuriki itu sepertinya
cukup percaya dengan semua kejahatan yang ia lakukan. Ia tahu, ia akan tersudut.
Ia akan semakin dikenal sebagai penjahat. Tetapi justru itulah yang ia
inginkan. Ia hanya tinggal menunggu Sasuke jauh lebih siap untuk menghukumnya.
.
.
.
.
.
Itachi tahu, ini adalah hari
terakhir baginya melihat dunia. Ia sudah merencanakan semuanya sejak
bertahun-tahun yang lalu dan menunggu hari ini. Ia akan menyerahkan nyawanya
untuk Sasuke. Tetapi sebelumnya, ia akan berusaha untuk membersihkan tubuh
Sasuke dari Orochimaru yang berusaha mencari kesempatan mengambil alih dirinya.
Dengan segala kebohongan yang ia
ciptakan, Itachi terus bersandiwara. Menarik Sasuke agar semakin semangat
membunuhnya. Membiarkan adiknya itu mengerahkan seluruh kemampuannya dan
berharap chakra adiknya itu segera habis agar ia bisa memaksa Orochimaru keluar
dari tubuhnya sebelum chakra milik Itachi sendiri habis.
Ia mengeluarkan berbagai teknik
mata yang bisa dilakukan oleh mangekyo sharingan-nya. Ia tahu, Sasuke tidak
kalah cerdas darinya. Pemuda itu pasti bisa mempelajari semuanya hanya dengan
melihat dan melawan langsung Itachi. Ia mengajari Sasuke tanpa adiknya itu
sadari.
Bahkan di saat mendekati embusan
napasnya yang terakhir, Itachi masih menunjukkan kebohongannya. Ia ingin
segalanya terlihat meyakinkan di mata Sasuke. Ia ingin sandiwaranya berakhir
dengan sukses tanpa sedikit pun cela.
Tetapi, semua kebohongan itu
luntur sendirinya tepat di saat terakhirnya. Untuk pertama kali setelah
bertahun-tahun lewat, ia tersenyum. Sebuah senyum tertulus yang pernah ia
sunggingkan. Senyum terakhir yang menghancurkan seluruh sandiwara yang selama
ini dibuatnya. Kebohongan besar yang dibuatnya, hari itu resmi berakhir dan dia
puas dengan seluruh kerja kerasnya.
.
.
“Bagaimana jika kau bisa
memilih untuk menjadi dirimu yang sekarang atau orang lain? Kau akan memilih
untuk menjadi siapa?”
“Aku akan tetap
memilih untuk menjadi diriku yang sekarang. Seorang Itachi Uchiha, shinobi dari
Konoha dan kakak dari Sasuke.”
.
.
“Kau harusnya mengerti apa yang
aku ingin kaulakukan. Kau adalah kakakku, jadi kau mungkin akan menolaknya. Tetapi,
aku juga adalah adikmu, jadi tak peduli apa pun yang kaukatakan aku tidak akan
berhenti. Bahkan di saat kau mencoba melindungi desa ini … aku akan tetap
mencoba menghancurkannya.”
Itachi tahu, semua kebohongannya
telah terbongkar. Ia tidak pernah tahu semua sandiwaranya diketahui oleh
seseorang yang tidak pernah ingin ia pikirkan akan mengetahuinya. Pria
bertopeng itu berhasil membentuk Sasuke menjadi sosok yang kini berdiri di
sampingnya. Sosok yang mencintai Itachi tetapi membenci hal yang paling Itachi
cintai; desa Konoha.
Ia tidak bisa melakukan apa pun
untuk mengubah keputusan adiknya itu. Bahkan setelah usaha kerasnya untuk
menyelamatkan desa, Sasuke tetap pada pendiriannya. Ya, dari awal dia tahu, dia
bukanlah kakak yang baik. Ia sama sekali tidak pernah bisa memahami keinginan
adiknya itu. Ia tidak pernah memercayai kekuatan Sasuke dan justru membuat
adiknya itu terjatuh semakin jauh ke kegelapan.
Tetapi seperti Itachi yang biasanya,
ia sudah memikirkan segalanya. Kali ini, sebelum ia kembali menutup mata untuk
ke dua kalinya, ia sudah memutuskan untuk memberikan semua tanggung jawab ini
pada Naruto. Ia yakin, pemuda itu bisa mengubah adiknya. Ia juga yakin, pemuda
itu bisa membawa Konoha menjadi desa yang jauh lebih baik.
Bahkan di saat terakhirnya,
Itachi masih menggantungkan harapannya untuk desa dan juga untuk Sasuke.
.
.
—Karena sejak awal
akulah yang memilih untuk menjadi diriku yang sekarang.
Dan tanpa semua
penderitaan itu, aku tidak akan bisa berbuat yang jauh lebih baik dari ini.
Bahkan hingga waktu
berlalu aku masih mencintai adikku, Konoha dan takdirku—
.
.
FIN
.
.
A/N: Oke, aku tahu ini gaje banget… Karena gaje itulah aku tidak jadi
mempublishnya di FFN... Biarlah di blog ini saja.. ;;A;;
Happy b’day Itachi-kun… Apa pun yang terjadi, kau adalah pahlawan yang
sesungguhnya… X)

























1 komentar:
Sukaaaa... penggambaran yang kalimat2 dicetak miring itu loh~ buat makin nyesek T_T
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar Anda